Mylittlememento's Blog

Yogyakarta Part 1: Dari Direndam Setinggi Pinggang sampai Seafood Murah

Posted on: December 9, 2010

Lagi-lagi sebuah perjalanan spontan saya lakukan dengan seorang teman. Direncanakan hanya seminggu sebelum bepergian yang pada akhirnya di luar perkiraan dan rencana. Tapi, saya sangat menikmatinya.

Berangkat hari Jumat malam jam 9, segera setelah selesai mengajar, saya dan teman langsung ke Stasiun Senen untuk beli tiket kereta ekonomi Progo. Harganya memang murah, Rp35.000. Tapi ya itu, tidak dapat tempat duduk dan perjalanannya memakan waktu 12 jam. Untungnya, teman seperjalanan saya (Nobi dan Rian) adalah orang-orang yang menyenangkan, khususnya Nobi. Sepanjang malam, kami malah seru ngobrol sambil tertawa-tawa yang pasti bikin para penumpang di sekitar kami pengen nimpuk atau malah ikut senyum mendengar ocehan kami yang ngalor ngidul. Di kereta ini, kami juga dapat kenalan baru namanya Ando. 12 jam “terjebak” bersama dia, rasanya semua pembicaraan kami (sejak berangkat sampai pulang) berkisar padanya. Cowok-cowok teman seperjalanan kami bisa dipastikan bosan karena setiap kalimat kami kadang dimulai dengan “eh, si masnya kan bilang…” 😀

Sampai di Yogya (Stasiun Lempuyangan), kami dapat penginapan di daerah Sarkem (Pasar Kembang) yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki ke Malioboro. Kamarnya kecil, hanya seukuran 2×3 cm. Cuma ada satu kasur untuk dua orang dan satu meja kecil. Lampunya pun neon remang-remang. Letak kamar mandi di luar yang merupakan kamar mandi bersama. Kalau dari luar, tidak terlihat seperti losmen tapi seperti rumah petak penduduk. Begitu masuk ke dalam, langsung disambut dengan pintu kiri-kanan yang kesemuanya menutup rapat.

Setelah mandi, kami nggak menyia-nyiakan waktu. Tujuan pertama adalah Gua Cerme. Gua ini terletak di daerah Imogiri, Bantul, 20 km dari Yogyakarta yang memiliki panjang 1,5 km. Di dalam gua ini banyak stalagtit dan stalagmit yang berkilau-kilau, genangan air (mulai dari yang semata kaki sampai sepinggang), dan air terjun yang namanya Grojogan Sewu (kalau nggak salah). Konon kabarnya gua ini digunakan oleh Para Wali Songo untuk bertapa. Di beberapa bagian gua ada karung bekas yang digunakan sebagai alas bertapa. Tidak terbayang oleh saya orang-orang ini diam di dalam kegelapan untuk meminta wangsit atau berdoa.

Karena kami hanya turis dan bersenjatakan sandal jepit, akhirnya kami memutuskan hanya menyusuri setengah gua saja. Perjalanan balik yang sedikit terburu-buru karena berencana mengejar sunset di Pantai Depok bikin kaki saya berkali-kali tergelincir, kena batu, kepleset, bahkan sandal jepit saya tertinggal berkali-kali. Celana jins yang saya pakai sudah basah sampai ke pinggang. Teman-teman saya yang membawa SLR mengangkat tas kamera mereka tinggi-tinggi agar tidak terendam.

Ada satu hal yang paling mengesankan, menurut saya. Suasananya terasa damai dan tenang. Kalau lapar, di sana ada beberapa warung yang didirikan penduduk yang menjual makanan, seperti mie rebus (popmie) dan soto ayam. Percaya atau tidak, harganya lebih murah daripada di kota. Meskipun tempatnya jauh, mereka tidak memanfaatkan keadaan dengan menaikkan harga. Benar-benar tidak ada duanya makan soto ayam dan mie rebus panas di tengah gunung yang sepi dan tenang.

Dari Gua Cerme, kami pindah ke pantai Depok untuk mengejar sunset. Ombaknya cukup besar dan anginnya pun kencang. Sayang, pasirnya yang berwarna kehitaman mengesankan ombaknya kurang bersih. Setelah teman-teman saya puas jepret-jepret dengan SLR mereka (sebenarnya saya agak merasa tersingkir karena kamera yang saya bawa hanyalah kamera handphone… :(), kami akhirnya memutuskan untuk makan seafood yang ada di pantai. Di bagian depan pantai ada tempat penjualan hasil tangkapan laut yang bisa kita beli dan dimasak oleh penduduk sekitar. Saya pikir, cukup murah untuk ukuran seafood. Dengan uang Rp50.000, kami sudah dapat kepiting, udang, kerang, dan ikan. Rasanya nikmat sekali makan seafood langsung di pinggir pantai, meskipun kerangnya terasa asiiiiiin… 😛

Advertisements

3 Responses to "Yogyakarta Part 1: Dari Direndam Setinggi Pinggang sampai Seafood Murah"

bahkan gue yang deket dari rumah pun belom sempet ke Pantai Depok. Itu Depok yg ada kayak gurun pasir gitu bukan? Lo naek apa ke situ, Dhan?
Dulu gw dari Paris mau ke situ katanya gak ada angkot, harus naek ojek. Karena dana sangat menipis, akhirnya gw langsung balik tanpa ke Depok dulu.

Gue naek motor, cor. Dari gue cerme. Emang kayak gurun pasir. pasirnya item gitu. ombaknya gede banget. tapi, makan seafood di pinggir pantai mantaaabbb! Hahaha…

gw baru inget, yg gue maksud itu namanya Gemuk Pasir. Tempatnya deket Pantai Depok. Iya katanya bergunung-gunung kayak gurun gitu, malah katanya itu yg buat shooting video klip Agnes…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

a lover, an adventurer, a freelancer, a life fighter, and a noodle maker

Follow Mylittlememento's Blog on WordPress.com

they see my blog

  • 46,048 orang

Goodreads

Calendar

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: