Mylittlememento's Blog

Archive for the ‘film dan musik’ Category

Tanggal 4 Agustus kemaren sebuah film Indonesia yang berjudul 3 Srikandi resmi rilis secara luas untuk publik. Film ini adalah penggambaran dari inspirasi yang diambil dari kisah nyata tim pemanah putri Indonesia yang berhasil menyumbang medali pertama untuk Indonesia di sepanjang sejarah olimpiade pada tahun 1988. Ketiga atlit tersebut adalah Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani dan Kusuma Wardani. Mereka berhasil meraih medali perak dalam ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.

WhatsApp Image 2016-08-14 at 09.55.03

Sekarang Multivision Plus kembali menghadirkan kisah mereka dalam sebuah film arahan Iman Brotoseno. Para artis papan ataspun digaet untuk memerankan tokoh-tokoh yang berperan besar pada masa itu. Bunga Citra Lestari berperan sebagai Nurfitriyana, Chelse Islan sebagai Lilies Handayani serta Tara Basro sebagai Kusuma Wardani. Selain itu mereka juga mengamit Reza Rahadian untuk memerankan Donald Pandiangan yang merupakan pelatih dari ketiga atlit wanita tersebut.

WhatsApp Image 2016-08-14 at 09.55.01 (1)

Peluncuran film ini juga mendapat respon yang positif dari berbagai kalangan atas dan pejabat negeri ini. Terbukti pak Habibie dan Ahok datang untuk menyaksikan film ini bersama para artis utama di bioskop mal Kota Kasablanka dan Djakarta Teater. Kedatangan para elit ini disambut antusias oleh pemain serta beberapa media dan penonton khusus yang turut serta. Respon mereka setelah nonton sangat positif dan berharap film ini bisa menjadi pilihan tontonan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

WhatsApp Image 2016-08-14 at 09.55.05

Saya dan beberapa teman-teman blogger lainnya beruntung untuk bisa diundang pada penayangan perdana film ini dan menontonnya bersama-sama dengan para elit diatas. pengalaman yang luar biasa.

Advertisements

IMG-20151223-WA0008[1].jpg

Berlokasi di MD Tower, Setiabudi, Jakarta, sebanyak 25 blogger dan jurnalis online yang tergabung dalam KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) mendapat kesempatan untuk mengikuti mini conference dan diskusi film produksi MD yang akan segera rilis, Talak 3. Para blogger sendiri mendapat kesempatan untuk bertanya kepada tiga narasumber yang hadir, yaitu Vino G. Bastian yang memerankan Bagas, Karan Mahtani selaku produser Talak 3, dan Hanung Bramantyo yang merupakan salah satu sutradara Talak 3 selain Ismail Basbeth.

Dimulai pada pukul 13.00, dari pemutaran trailer pertama yang juga bisa dilihat di Youtube, diskusi mulai mengalir. Hanung dan Karan sendiri setuju bahwa film ini menjadi semacam nasihat kepada laki-laki agar berhati-hati saat mengucapkan kata ‘talak’ kepada istri. “Jadi, melalui film ini, saya ingin memberikan informasi kepada masyarakat yang bisa jadi belum tahu apa itu ‘talak tiga’ dan konsekuensinya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat sendiri, Hanung mengungkapkan bahwa ini bukan film religi. “Memang Bella berhijab, tapi saya hanya ingin memperlihatkan bahwa kita hidup di Indonesia yang hijab sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Talak 3 sendiri adalah film drama komedi-romantis. Ini adalah kisah mengenai laki-laki yang berpisah dari pasangan dan memaksa untuk kembali lagi, sampai-sampai memainkan hukum agama,” ucap pria yang kembali berkolaborasi dengan Vino pasca Catatan Akhir Sekolah 10 tahun lalu.

Saat MD mendapat tawaran naskah ini dari Hanung, Karan mengakui langsung tertarik dengan konsep ceritanya. “Begitu terima naskah, saya langsung tertarik. Kisahnya banyak terjadi di masyarakat dan juga banyak orang yang tidak tahu mengenai apa itu ‘muhalil’. Film ini ingin memberitahu bahwa sebelum menjatuhkan kata ‘talak tiga’ harus mengerti benar hukumnya. Sekarang ini banyak pasangan yang menikah muda dan kerap emosional sehingga mudah mengucapkan kata ‘cerai’.” Vino sendiri menambahkan bahwa ini bukanlah film religi yang dikomedikan. “Kalau saya melihatnya, ini merupakan hal serius yang disampaikan dengan sederhana oleh sutradara agar lebih dapat diterima masyarakat.”

IMG-20151223-WA0006[1].jpg

Mengenai pemilihan dua sutradara di Talak 3 sendiri, Hanung mengungkapkan bahwa ia ingin mengembalikan kepercayaan penonton kepada film Indonesia. “Saya perhatian dengan film nasional dan ingin jargon “tuan rumah di negeri sendiri” menjadi sebuah kenyataan. Untuk itu, saya harus membelah diri saya menjadi 10 orang agar dapat mengembalikan kepercayaan kepada penonton, melalui bukti nyata, bukan sekadar jargon. Itulah yang saya terapkan kepada Fajar Nugros dan sekarang Ismail. Kalau membuat film itu sama seperti halnya dengan membuat sepatu. Sebagus apapun kalau nggak sesuai dengan orang yang memakai, buat apa? Pada akhirnya pasti sepatu itu tidak akan dipergunakan.”

Adanya dua kepala yang menyutradarai ternyata tidak menjadi masalah bagi Vino. “Di Talak 3, tidak ada pemisahan bagian. Misalnya Mas Hanung garap adegan apa, Mas Ismail garap yang mana. Keduanya bekerja sama. Para pemain juga tidak bingung harus mengikuti yang mana.” Mengenai karakter Bagas yang ia perankan, Vino melihat sosok ini sebagai sosok yang perfeksionis, ceplas-ceplos, dan melihat secara global. Tapi, karena itulah ia tidak dapat melihat detail-detail kecil. Lalu, apa alasan Hanung memilih Vino sebagai Bagas? “Dalam bayangan saya, dua aktor yang akan memainkan ini adalah Vino dan Reza Rahadian. Awalnya Reza yang memaksa untuk menjadi Bagas, tapi saya melihat kalau karakter Bagas ini persis seperti karakter yang Reza mainkan di Kapan Kawin. Maka pilihan jatuh ke Vino. Menurut saya, karakter itu memilih pemainnya, bukan pemain yang memilih karakter dan karakter Bagas ini memilih Vino.” Tidak hanya Vino, Hanung juga sempat bercerita sedikit mengenai karakter Risa. “Saya tadinya tidak yakin Bella sanggup bermain komedi karena dia lebih banyak main di film drama. Tapi ketika test-cam, saya kaget karena akting dramanya malah bisa kepakai di sini dan cocok.”

Sebagai penutup, saya melontarkan pertanyaan mengenai fans kepada Vino mengingat fanbase aktor satu ini cukup besar dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Kemunculan mereka merupakan dampak dari karya saya dan saya bisa seperti ini karena mereka. Bahkan, mereka bisa lebih galak daripada kritikus film biasa. Saya tidak mau menyebut mereka ‘fans’ karena saya tidak suka ada jarak, itulah kenapa saya memanggil mereka dengan sebutan ‘friends’.  Saya melihat kehadiran mereka sebagai berkah dan rezeki, memiliki teman-teman yang mendukung dan juga kritis terhadap film-film saya,” pungkas Vino.

Talak 3 akan tayang mulai 4 Februari 2016 di bioskop.

T3.jpg

tumblr_me0ggcGa9Z1ryswt1o1_1280_large

Saya sudah sering banget dengar pepatah ini, baik ketika baca novel sampai majalah-majalah remaja (well, it makes me feel young again :D). But somehow, saya masih sering shock dengan betapa benarnya pepatah ini berlaku, apalagi saya mengalaminya sendiri. Hanya dalam waktu dua hari, saya belajar untuk tidak menilai sebuah ‘buku’ (or person, in my case) hanya dari kulit luarnya saja (or face).

SHOCK # 1
Subject of Interest: Reza Rahadian

Minggu lalu, saya mendapat kesempatan meliput sebuah acara di Bali. Berangkat Jumat pagi dan pulang Minggu pagi. Yah, memang cuma dikasih waktu tiga hari, tapi saya pikir itu cukuplah secara saya juga tidak terlalu berharap lebih untuk bisa jalan-jalan dan belanja-belanji (but i pray so HARD to do that thing, hihihi). Nah, ketika dijemput oleh panitia, saya dikabarkan bahwa ada artis yang datang, yaitu Reza Rahadian. Dalam benak saya, sosok Reza ya seperti yang selama ini saya lihat di film-film dan press conference: dingin, cool, dan pendiam. Apalagi nilainya langsung berkurang sedikit ketika dia dengan seenaknya berhenti di tengah jalan untuk buang air kecil (hei, bukan buang air kecil sembarangan macam abang-abang angkot lho). Padahal, kami sudah bisa dibilang telat dari jadwal yang seharusnya. Wajahnya pun terlihat jutek banget yang bikin saya menyamakan dia dengan artis-artis sinetron muda yang gayanya super senga’ meski baru terkenal sedikit aja.

But apparently, my opinion about him changed in the afternoon. Setelah kami di-spa (yes, I tried it for the very first time and it feels sooooo good), kami sempat ngobrol-ngobrol sambil minum-minum (dia air putih dan saya capuccinno). Ternyata, diam dan juteknya itu karena dia sedang sakit. Tapi, setelah dipijat dan minum yang agak hangat, dia lebih rileks dan agak enakan. Bahkan, dia cenderung cerewet menceritakan banyak hal. Obrolan kami (yang kebanyakan membahas film itu) sampai berlanjut hingga di ruang tunggu bandara ketika kami harus kembali ke Jakarta. Akhirnya saya tahu bahwa dia bukanlah aktor kebanyakan. He’s smart, idealist, dan tidak segan-segan untuk mengungkapkan pendapatnya kalau ia merasa ada hal yang mengganjal. Reza Rahadian is really one-of-a-kind actor. I’m sorry I judge you before I know you. 🙂

SHOCK # 2
Subject of Interest: Mike Lewis

Siapa yang nggak kenal Mike Lewis? Mantan suami Tamara Bleszinsky, aktor, dan bintang sinetron yang terkenal mungkin karena ketampanan dan logat Inggrisnya yang kental. Jujur, saya sangat memandang remeh sosok ini. (Lagi-lagi) menurut saya, Mike Lewis pasti adalah tipe aktor sinetron yang banyak gaya dan bangga dengan tampang bulenya itu (duh, saya memang tidak pernah bisa memberikan penilaian yang baik untuk aktor sinetron. So sorry). Ketika mendapat undangan untuk datang ke acara press junket Dead Mine, saya langsung kepikiran untuk mewawancarai Ario Bayu. Yesss, he’s one of my favorite actor. Nggak ada tuh di benak saya untuk mewawancarai Mike. Yah, mungkin kalau ada sisa waktu kali ya.

Rencana untuk bisa wawancara one-on-one dengan Ario Bayu buyar karena ternyata diputuskan bahwa kami harus mewawancarai semuanya (ada Bang Tigor juga saat itu). Ya sudah, saya dan beberapa wartawan lain pun duduk berhadap-hadapan dengan mereka. Harus saya akui bahwa karena ini sifatnya eksklusif (hanya enam media yang diundang) maka mejanya pun kecil dan bikin kami tidak berjarak dengan mereka bertiga. Maka, dimulailah tanya jawab mengenai film Dead Mine.

Ario Bayu memang sudah seperti yang sudah saya duga: dia charming, hangat, fun, kocak, dan humble. Tapi, yang bikin saya kaget adalah Mike Lewis ternyata juga sama serunya, sama fun-nya, dan sama kocaknya dengan Ario. Dia bahkan dengan sopan membahasakan dirinya ‘Mike’, bukan dengan ‘gue’ atau ‘saya’. Dan, setiap kali dia berbicara, matanya pasti akan menatap tajam lawan bicaranya. Terus, saya pikir, logat Inggrisnya itu akan terdengar annoying, tapi ternyata tidak. Sebagai seorang warganegara Kanada, Mike memang sedang belajar bahasa Indonesia. Dan, dia mengungkapkan bahwa cita-citanya adalah suatu saat bisa pindah kewarganegaraan menjadi Indonesia karena dia cinta negeri ini.

Dari dua kasus di atas, saya merasa tertohok. Selama ini, saya masih belum bisa melepaskan diri untuk melihat orang dari kulit luarnya. Hanya karena satu sinetron/film, saya langsung mencap individu ini nggak asyik, sombong, dll. Tapi, begitu ketemu langsung, saya terpaksa menelan ludah sendiri. Well, I guess there are lot of things that I still need to learn.

Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta, cita-cita, cinta-cinta
yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Musik selalu jadi cara yang ampuh untuk membangun ingatan seseorang terhadap kejadian yang telah lewat, baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Saya sendiri, kalau sudah merunut, punya ratusan bahkan ribuan musik yang selalu bisa dikaitkan dengan kejadian apapun. Denger Tompi, inget putus. Denger Andra & The Backbone, inget ini. Denger Sheila on 7, inget itu. Nggak cuma saya, tapi saya yakin, teman-teman saya juga pernah mengalami hal yang serupa.

Tapi, entah kenapa, ada hal yang terasa membekas banget kalau mendengarkan genre lagu tertentu. Dan, ini nggak hanya dialami sama saya, tapi juga kakak saya. Jadi, kalau suatu hari tiba-tiba kami denger lagu genre oldies, rasanya semua yang ada di sekitar saya menghilang dan saya kembali duduk di meja makan kayu di beranda belakang rumah lama saya sambil makan sahur.

Jadi, saya dulu punya dua meja makan. Satu meja makan di dalam yang dipakai untuk makan resmi (kalau ada kakek-nenek atau tamu) dan yang satu lagi meja makan di luar yang cuma dipakai kalau pas bulan puasa karena lebih deket sama dapur. Nah, kebiasaan Papa itu pas bulan puasa (saya lupa tepatnya puasa tahun berapa dan saya kelas berapa) adalah menyalakan radio dan selalu Sonora. Terus, suara radio itu disambungkan ke speaker yang ada di luar sehingga kami yang makan bisa denger. Hal ini dilakukan 2-3 tahun berturut-turut.

Sekarang, saya udah pindah dari rumah itu, speakernya udah nggak tau ke mana, dan radionya pun juga sudah dipensiunkan (diganti dengan boombox yang lebih canggih). Tapi, kenangan setiap kali saya denger lagu-lagu oldies pasti akan selalu kembali ke situ. Such a beautiful memory that i would never forget.


a lover, an adventurer, a freelancer, a life fighter, and a noodle maker

Follow Mylittlememento's Blog on WordPress.com

they see my blog

  • 46,174 orang

Goodreads

Calendar

September 2017
M T W T F S S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930